Margins
2012
First Published
2.75
Average Rating
328
Number of Pages

Putri, anak Walikota Malang yang kuliah di Universitas Brawijaya, tak bisa menghindar dari arus demonstrasi mahasiswa. Kehidupan kampus yang tenang mendadak panas dengan munculnya beberapa mahasiswa membawa poster menuntut Suharto turun. Sebagai generasi a-politik, Putri merasa aneh melihat teman-teman kuliahnya kehilangan kejenakaan dan menjadi idealis. Salah seorang yang menarik perhatian Putri adalah Neno, aktifis kampus, yang sering demo bolak-balik Malang-Jakarta. Hubungan Putri dan Neno semakin dekat, namun dalam salah satu aksinya Neno dikabarkan hilang! Putri khawatir Neno termasuk daftar orang yang dihilangkan. Ia pun berupaya keras melacak keberadaan kekasihnya itu. Tak kunjung berhasil menemukan Neno, selulus kuliah Putri pun pindah ke Amerika Serikat untuk kuliah S2. Dalam sebuah chatting, kabar lengsernya Suharto terdengar oleh Putri. Suharto telah mundur pada 21 Mei 1998. Ia pun memutuskan kembali ke Malang dan menemukan kenyataan bahwa tak seorang pun mau bertanggung jawab atas penculikan mahasiswa. Kemelut politik telah reda, namun Neno yang tak pernah ditemukan menyisakan kemelut tersendiri di hati Putri. Novel 1998 adalah karya terakhir Ratna Indraswari Ibrahim yang berpulang pada 28 Maret 2011. Tragedi orang hilang pada masa 1998 membuat Ratna mendokumentasikannya dalam bentuk novel. Novel ini bisa dikatakan sebuah tribute dari Ratna bagi perjuangan orang-orang yang akan selalu menolak untuk lupa atas tragedi yang disisakan oleh tahun 1998.

Avg Rating
2.75
Number of Ratings
64
5 STARS
14%
4 STARS
9%
3 STARS
30%
2 STARS
31%
1 STARS
16%
goodreads

Author

Ratna Indraswari Ibrahim
Ratna Indraswari Ibrahim
Author · 6 books

Lahir di Malang, Jawa Timur, 24 April 1949. Anak kelima dari 10 bersaudara ini mengaku bahwa bakat mengarangannya menurun dari simbah buyutnya yang menjadi pawang cerita di Minang. Pada sekitar usia tigabelas tahun ia mengalami penyakit rachitis (radang tulang) yang mengakibatkan Kedua kaki dan tangannya tidak berfungsi, sehingga ia harus duduk di atas kursi roda. Keterbatasan fisik seperti ini bukan menjadi hambatan baginya untuk mengembangkan pribadinya. Pernah berkuliah di Fakultas Ilmu Alam Universitas Brawijaya, Malang, namun tidak ia rampungkan. Dalam proses kepenulisannya, ia banyak mendapat inspirasi dari historiografi, yakni menceritakan kejadian-kejadian masa lampau, baik berunsur sejarah atau legenda. Namun karena cacat fisik yang tidak memungkinkan dia menulis langsung, ia hanya mendiktekan kepada para asistennya untuk mengetik, baru kemudian merevisinya. Dengan perjuangan teknis seperti itulah cerpen dan novelnya lahir, dan memiliki karakter yang sangat khas dengan kewanitaannya. Karyanya antara lain : berupa kumpulan cerpen yang di muat dalam antologi Kado Istimewa (1992), Pelajaran Mengarang (1993), Lampor (1994), Laki-Laki yang Kawin dengan Peri (1995), Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (1997), Lakon Di Kota Senja (2002) dan Waktu Nayla (2003). Kumpulan cerpennya yang lain : Aminah di Suatu Hari, Menjelang Pati (1994), Namanya Masa (2000) dan Sumi dan Gambarnya (2003). Karya-karya cerpennya tersebut banyak dimuat di berbagai media massa seperti Kompas, Horison, Basis, Suara Pembaruan, Kartini, Sarinah, Jawa Pos dan banyak lagi. Ia juga menerbitkan novel yaitu Bukan Pinang Dibelah Dua (2003) dan Lemah Tanjung (2003). Atas peran aktifnya dalam dunia sastra, tercatat beberapa kali ia meraih beberapa penghargaan, antara lain, tiga kali berturut-turut cerpennya masuk dalam antologi cerpen pilihan Kompas (1993-1996), cerpen pilihan harian Surabaya Post (1993) serta juara tiga lomba penulisan cerpen dan cerbung majalah Femina (1996-1997). Karyanya juga terpilih masuk dalam Antologi Cerpen Perempuan ASEAN (1996). Disamping rajin menulis, sejak 1977 dia juga aktif menjadi ketua Yayasan Bhakti Nurani Malang dan Direktur I LSM Entropic Malang (1991). Karena aktivitas sosialnya inilah dia mendapat kesempatan mengikuti berbagai seminar internasional, seperti Disable People International di Sydney, Australia, (1993), Kongres Internasional Perempuan di Beijing, RRC (1995), Leadership Training MIUSA di Eugene Oregon, Amerika Serikat (1997), Kongres Perempuan Sedunia di Washington DC, Amerika Serikat (1997), serta pernah mendapat predikat Wanita Berprestasi dari Pemerintah RI (1994). Tahun 2001, ia membentuk Forum Kajian Ilmiah Pelangi yang bermarkas di rumahnya, Jl. Diponegoro 3.A Malang, Jawa Timur. Forum ini mampu menjadi oase, kantong budaya, karena mengakomodasi berbagai elemen masyarakat dalam diskusi persoalan aktual setiap bulannya. Sastrawan ini meninggal dunia di usia 61 tahun setelah menderita stroke.

548 Market St PMB 65688, San Francisco California 94104-5401 USA
© 2026 Paratext Inc. All rights reserved