
Sejarawan ini memberikan banyak sekali kontribusi penting dalam penulisan sejarah Indonesia dan Asia Tenggara secara umum. Ia yang lahir pada 1 September 1929 di Tegal, Jawa Tengah, lincah dalam pelbagai tema kajian sejarah, tetapi terutama sohor sebagai ahli sejarah maritim yang dengan disertasinya Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX dianggap telah membuka lembaran baru dalam penulisan sajarah maritim dan sejarah kawasan di Indonesia. Jika Sartono Kartodirdjo pernah menekankan pentingnya menulis tentang petani dan orang biasa di desa yang cenderung dilupakan dalam sejarah, maka Adrian B. Lapian melengkapi pernyataan itu dengan mengatakan bahwa mereka yang dilupakan ini tidak hanya hidup di darat, tapi juga di laut. Studinya menghadirkan kembali berbagai sosok seperti bajak laut dan perompak, dan memberi sudut pandang baru yang segar dan berbeda terhadap penulisan sejarah yang bertumpu pada pengalaman manusia di daratan. Perhatiannya terhadap sejarah maritim Indonesia dimulai sejak masih menjadi mahasiswa dan kemudian menyusun skripsi mengenai jalan perdagangan maritim ke Maluku pada awal abad ke-16. Minat ini juga yang menjadi landasan penting baginya saat bekerja pada Seksi Sejarah Angkatan Laut dan Maritim di Markas Besar Angkatan Laut antara 1962 dan 1966. Ia mengawali studi sejarah maritim bukan hanya di Indonesia tapi di wilayah Asia Tenggara dan memegang otoritas dalam bidang studi tersebut sampai saat ini. Ia juga seorang pekerja yang tekun, rapi dan berdedikasi, yang membawanya ke berbagai posisi penting dalam berbagai lembaga penelitian di dalam dan luar negeri. Sekalipun minat dan pengetahuannya mengenai berbagai aspek sejarah Indonesia dan Asia Tenggara terus berkembang, perhatian khusus terhadap sejarah maritim ini tidak pernah ditinggalkan. Bahkan pada 1992 ia diangkat sebagai guru besar luar biasa di Universitas Indonesia dengan judul pidato pengukuhan Sejarah Nusantara Sejarah Bahari. Dan ia pun pada konperensi IAHA ke-15 tahun 1988 oleh Shaharil Thalib, seorang sejarawan gurubesar University Malaya, disandangkan gelar sebagai �Nakhoda pertama sejarawan di maritim Asia Tenggara�. Minat dan pengetahuannya mengenai bidang sejarah yang lain mendapat landasan kelembagaan saat bekerja sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak 1966, tempat ia mendirikan dan pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB-LIPI) dari 1986 sampai 1990, dan menjadi Ahli Peneliti Utama, antara 1990 sampai 1994. Di sini Prof Lapian menyusun bermacam sumbangan berharga di bidang sejarah lisan, sejarah lokal dengan fokus pada kawasan timur Indonesia dan mengangkat kembali people without history di berbagai kawasan itu. Ia menekuni studi kawasan yang disusun bukan berdasarkan batas-batas administratif yang datang kemudian, tapi berdasarkan persepsi para aktor sejarah di kawasan itu sendiri. Pengetahuan yang solid mengenai kawasan inilah yang bisa menjadi dasar lebih kokoh bagi penyusunan sejarah nasional. Minat dan pengetahuan yang luas ini juga membawanya berkeliling dunia untuk melakukan penelitian, memberikan kuliah dan ceramah serta turut dalam berbagai pertemuan ilmiah internasional. Daftar tempat yang pernah dikunjunginya cukup panjang untuk mengisi beberapa halaman buku ini dan lebih dari cukup untuk menjadikannya seorang world traveller dalam arti sesungguhnya. Di tengah berbagai kesibukan menuliskan pengamatan dan kesimpulannya sendiri ia juga masih menyempatkan diri menerjemahkan berbagai karya ilmiah, seperti buku George D. Larson, Masa Menjelang Revolusi: Kraton dan Kehidupan Politik di Surakarta, 1912-1942 (1990) dan buku Jacob Vredenbregt, Bawean dan Islam (1990). Sebagai pengajar, Prof Lapian sudah membimbing belasan calon doktor dan puluhan mahasiswa S-1 dan S-2 mendapatkan gelar mereka di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Ia dikenal sebagai pendidik yang sabar dan tekun. Pengabdiannya tidak