Margins
Margins
Sign in
Margins
Subscribe to our newsletter
548 Market St PMB 65688, San Francisco California 94104-5401 USA
hello@margins.app
·
+1 (650) 223-5283
Privacy Policy
·
Terms of Use
© 2026 Paratext Inc. All rights reserved
🇮🇩
best indo reads
Malam Terakhir
Kumpulan Cerpen
Leila S. Chudori
"Leila bercerita tentang kejujuran, keyakinan, tekad, prinsip dan pengorbanan...Banyak idiom dan metafor baru di samping padangan falsafi yang terasa baru karena pengungkapan yang baru. Sekalipun bermain dalam khayalan lukisan-lukisannya sangat kasat mata."
H.B.Jassin, pengantar Malam Terakhir Edisi Pertama.
"Dalam cerpen 'Air Suci Sita', ditulis di Jakarta 1987, Leila memulai ceritanya dengan kalimat:'Tiba-tiba saja malam menabraknya.' Sebuah kalimat padat yang sugestif dan kental...Dengan thnik bercerita yang menarik, Leila berhasil mengangkat gugatan mengapa hanya kesetiaan wanita yang dipersoalkan, bagaimana dengan kesucian para pria? (...) Sebagaimana awal dari perjalanan panjang Leila sebagai salah seorang penulis di masa depan, kumpulan ini penuh janji."
Putu Wijaya, Tempo, Februari 1990.
The Sea Speaks His Name
2017
Leila S. Chudori
The tragic yet inspiring story of a group of friends, all young and idealistic political activists who faced the iron fist of power in the waning days of the Suharto regime, in the late 1990s. In the twilight hours of a day in March, Biru Laut was ambushed by four unknown men. Together with his friends, Daniel, Sunu and Alex, he was taken to an unknown location. For months they were held captive, interrogated, beaten and tortured into answering one sole question: Who stood behind the rebellious student movements at that time? Biru Laut’s younger sister, who, along with other family members of kidnapped student activists, struggled to put the pieces of the puzzle together and to find answers to their never-ending questions. While her parents appear to be in denial and remain hopeful that Biru Laut will one day come back to sit at the family table again, Asmara Jati engages alongside the Missing Persons Commission Team led by Aswin Pradana in order to strive to find traces of those who went missing and to record the testimonies of those who returned. This stirring story of Biru Laut and his friends is the story of the desaparecidos of Indonesia. It is the story of a momentous—and still seldom written about—period of Indonesian history that led to the end of dictatorship in Indonesia.
Namaku Alam
Jilid 1
Leila S. Chudori
Inilah yang kubayangkan detik-detik terakhir Bapak: 18 Mei 1970. Hari gelap. Langit berwarna hitam dengan garis ungu. Bulan bersembunyi di balik ranting pohon randu. Sekumpulan burung nasar bertengger di pagar kawat. Mereka mencium aroma manusia yang nyaris jadi mayat bercampur bau mesiu. Terdengar lolongan anjing berkepanjangan. Empat orang berbaris rapi, masing-masing berdiri dengan senapan yang diarahkan kepada Bapak. Hanya satu senapan berisi peluru mematikan. Selebihnya, peluru karet. Tak satu pun di antara keempat lelaki itu tahu siapa yang kelak menghentikan hidup Bapak. \
\
Pada usianya yang ke-33 tahun, Segara Alam menjenguk kembali masa kecilnya hingga dewasa. Semua peristiwa tertanam dengan kuat. Karena memiliki
photographic memory
, Alam ingat pertama kali dia ditodong senapan oleh seorang lelaki dewasa ketika masih berusia tiga tahun; pertama kali sepupunya mencercanya sebagai anak ‘pengkhianat negara’; pertama kali Alam berkelahi dengan seorang anak pengusaha besar yang menguasai sekolah; dan pertama kali dia jatuh cinta.
🇮🇩 best indo reads