
Kenapa Biru? Karena Biru adalah langit yang selalu melingkupimu. Langit yang tak pernah lelah atau mengeluh meski terkadang kau menjauh. Pergi. Tak jenak pada ranah mana kau berdiri. Kenapa Magenta? Sebab akulah Merah yang mengandungmu. Magenta adalah cinta. Magenta adalah luka. Magenta adalah wujud aku dan juga kamu. Sebuah kompleksitas penyatuan yang menjelma dalam keluguannya yang muda. Magenta, sinar yang menyala pada kelamnya biru malam. Magenta, membuat segalanya berbaur dan tertukar. ***** Biru Magenta ini tak hendak berpanjang-panjang dalam mengolah kata, tak pula memilih metafor yang berbelit, melainkan justru secara cerdik memaksimalkan diksi sederhana namun berdaya makna dalam dan jauh. Sanie B. Kuncoro - penulis novel Garis Perempuan, Ma Yan dan Silang Hati. Meskipun menulis puisi merupakan suatu kerja pemadatan bahasa, metafora (dalam pengertian luas) yang digunakan dalam kumpulan ini ditulis dengan tidak tergesa-gesa. Mario F. Lawi, penyair. Membaca korpus wacana Biru Magenta karya Satyavati dan Julionatan seakan saya dihadapkan kembali pada kesadaran bahwa kita (masih) manusia: makhluk yang dinamis, penuh pergulatan, dan haru biru dalam keberadaannya. Indra Tjahyadi, penyair, penikmat kehidupan.
Authors
