
Saya suka akan sejumlah besar sajak Gus yang dikemas dalam buku ini � Sajak pertama yang berjudul �Daging� saya baca sebagai sejenis kredo yang menjelaskan bahwa puisi berayun-ayun antara �dongeng� dan �daging.� Penyair adalah puisi itu sendiri, ia cuma dongeng dan konon, tetapi sekaligus daging � di tengah perkembangan puisi yang miskin penguasaan atas bahasa di negeri ini, Gus telah berusaha untuk dengan cermat menciptakan bahasa � Gus tidak bersembunyi di balik pilihan kata yang gagah, tidak menggunakan tameng kalimat-kalimat yang tak juntrung tatanannya. Ia tidak terutama menggambar tetapi berpikir, namun sadar bahwa dalam puisi, apa pun harus menjadi konkret karena hakikat seni adalah mengkonkretkan yang abstrak � Sapardi Djoko Damono