
Dhianita Kusuma Pertiwi menurunkan teks dari arsip yang telah lama ia tinggalkan, membuka kembali folder usang yang selama bertahun sengaja tidak disentuh. Dari sana ia menelusuri jejak pelarangan, mengorek luka ingatan yang berulang kali disangkal negara dan perlahan dilupakan masyarakat. Di Bawah Rundungan Merah bekerja seperti cahaya yang terlalu redup untuk menenangkan, tapi cukup terang untuk memaksa mata tetap terbuka meneroka. Di sini, buku tidak hadir sekadar sebagai sebuah benda, tetapi ia serupa tubuh yang diserang, dicurigai, dan dipukul mundur karena gagasannya. Dalam buku ini, Dhianita menyusun detail sebuah peristiwa dan mem- biarkan fakta berbicara tanpa kehilangan keberpihakan etisnya. Membacanya serupa menyusuri lorong panjang tempat ketakutan diwariskan dari rezim ke rezim, dari dogma ke moral publik. Namun di antara rerun- tuhan larangan itu, Dhianita juga menyisakan keyakinan, bahwa membaca selalu menemukan cara untuk bertahan.
Author
