
Novel Di Etalase menghadirkan kepada pembaca serangkaian teka-teki yang harus dipecahkan, menyebar potongan-potongan puzzle yang harus disusun ulang. Yang ditemui di dalamnya adalah fiksi yang terus menerus merujuk pada fiksi yang lain; fiksi yang tak perduli apakah ada realitas lain di luar dirinya; fiksi yang melingkar-lingkar dalam semesta fiksi tanpa tautan. Barangkali kita tidak bisa menemukan bagaimana relasi antara dongeng dari Babilonia dengan perjalanan Kara dan Ana. Juga kisah-kisah yang meluncur dari mulut Kara yang Lain yang disampaikannya pada Kara. Tapi demikianlah pilihan sang pengarang, menghadirkan kepada kita fiksi yang tiada henti, yang bermain-main dalam wilayah logika, ruang dan waktu. Fiksi-fiksi itu menjabarkan banyak hal dan banyak peristiwa, tidak ensiklopedik, bahkan mendekati teoretik. Ada banyak nama tergelar disana, tanpa latar belakang, datang tiba-tiba. Kecenderungan penulis untuk bermain dengan banyak teori dan persoalan bisa jadi justru membuat persoalan-persolan itu menjadi sekadar sisipan, dan tidak meninggalkan jejak yang dalam di keseluruhan cerita. Sebagai sebuah novel yang mengambil pendekatan “psikologis”, novel ini dapat dikatakan cukup berhasil memunculkan persoalan-persoalan dalam pikiran dan jiwa manusia. Dengan nuansa yang gelisah dan sedikit marah, tak menyengat tapi punya daya tular, Di Etalase seperti mengajak pembacanya berpikir tentang substansi, bukan selebrasi. Alia Swastika http://aliaswastika.multiply.com/?&am...