
Aku akan belajar dari luka. Mengenang panen perdana kita. Benih sulung yang jatuh untuk memberi semai pada tunas yang baru. Hanya ada satu kata: Kenang! Dan semoga doaku, cukup layak untuk menjangkaumu. Kata mereka tentang Rabu dan Biru: Berisi cuplikan adegan dan perasaan yang ditulis seumpama larik-larik ayat, buku ini niscaya membuat kita rindu pada puisi dan mungkin menggerakkan tangan kita ikut menulis sebaris atau dua. –Dewi Lestari, penulis Membaca buku ini, kelihatannya pengarang sudah semakin matang mengemas ide-ide. Keliaran, renungan terpapar telanjang. Masih terlihat ‘wagu’ dan perlu waktu untuk menjawab, di mana posisi buku ini dalam perkembangan sastra kita. Mari mengunyahnya pelan-pelan sebelum menelannya. –Oka Rusmini, novelis, juri Siwa Nataraja Awards 2016 Melalui Stebby, kita merasakan puisi menjadi suci dan agung. Terkadang angkuh, terkadang melata, kerap pula menebas seperti pedang. Baginya, puisi tidak lahir hanya menjadi etalase kata-kata indah tapi lautan makna. Ia mengemban tugas utama menggiring manusia menuju kemuliaan. –Moch Satrio Welang, pelakon, juri Siwa Nataraja Awards 2016 Sebuah tawaran menarik. Pertemuan mengasyikan antara sejarah dan puisi. Gambaran atas tenun kebangsaan yang ciamik menggunakan model karangan kitab suci. Kebhinekaan suku, ras, dan agama mewujud dengan begitu memesona dalam kepekaan lokalitas yang menawan. –F. Aziz Manna, penyair, peraih Kusala Sastra 2016
Author
