
dari kelangkang ini, lumut-lumut hijauku menyeruak melilit ikan-ikan kecil burung-burung kecil yang tamasya mendekati sihir kata-kataku. inilah kitab suciku! meledak dalam kesintingan! ditelikung cahaya bulan, sendirian di penjara, dingin yang akrab dan suara-suara jauh dan tikus, dan bayangan kematian, tapi lumut-lumut ini menjangkau ke mana-mana, ke bermuda warna-warni di balik celana para lonte yang bersikukuh menahan imannya dibelit cadar kemunafikan! hurah! taik anjing masuk lobang jadah miliknya: oh, cinta yang menipu! bau tahi asu dari desa terjauh di utara sana, telah menghisapku dan perek-perek terus saja dilahirkan tiap detik. (dari puisi "Lumut") Huruf-huruf berbenturan dan menciptakan ruang kosong. Inti puisi itu adalah ambiguitas dan lipatan rahasia mesti dibuka pelahan-lahan bila ingin menikmati beberapa puisi yang saya tulis. Melewati pintu Roland Barthes yang penuh tanda, atau melewati saja pintu biasa. Saya meletakkan interpretasi lebih lanjut kepada pembaca, sehingga semua hak untuk mengkritisi teks puisi yang saya gubah seratus persen ada pada mata pembaca bila buku ini sampai. (dalam esai Melingkar-Lingkar dalam Lingkaran) Puisi-puisi dalam buku ini saya tulis pada kurun waktu 2012-2016.