
Di Jakarta yang gemerlapan ini Sulaeman akhirnya memilih pekerjaan atau profesi sebagai pemilik dan sekaligus pekerja reparasi sepeda. Waktu itu belum ada sepeda bermotor, kalau pun ada yang memilikinya masih jarang sekali dan bagi bengkel sepeda Sulaeman adalah langka memperbaiki ban sepeda motor. Sulaeman cuma menguasai mekanik sepeda termasuk menambal ban, mengganti jeruji dan sesekali mengecet sepeda tua untuk dijadikan seperti baru sehingga dapat dijual dengan harga yang baik. Penghasilan sehari-hari Sulaeman yang pas-pasan itu tidak dapat mewujudkan mimpinya untuk menjadi orang berharta tapi itu bukanlah tujuan utama Sulaeman. Ia lebih suka menjadi orang biasa yang terkenal dan dikenal semua orang di Jakarta ini. Sulaeman pun mulai mencoba jalannya orang bisa jadi terkenal yakni mengarang atau menjadi pengarang. Buku-buku karangannya yang dicetak ribuan jumlahnya tampilkan namanya sehingga bisa membuatnya dikenal luas oleh orang-orang yang membaca karangannya.