Margins
Hujan Menulis Ayam book cover
Hujan Menulis Ayam
2001
First Published
3.66
Average Rating
94
Number of Pages
“Di antara para penyair-penulis cerpen, Sutardji Calzoum Bachri merupakan nama yang paling sedikit dikenal, bukan saja karena sedikitnya cerpen yang ditulis, tetapi karena melambungnya namanya sebagai penyair. Untuk mengatakannya dalam paradoks: nama besarnya sebagai penyair telah telanjur menindas potensi pribadinya sebagai seorang penulis cerpen… Judul Hujan Menulis Ayam mengingatkan kita akan pemberontakan Sutardji terhadap semantik dalam bahasa, yaitu terhadap penyederhanaan fungsi dan tugas kata-kata hanya sebagai pemanggul makna-makna yang telah dibakukan menjadi konsep. Kredonya yang terkenal itu adalah suatu pernyataan sikap menolak: kata-kata bukanlah sekedar tukang pikul. Kata-kata harus aktif menciptakan makna dan bukanlah mobil ekspedisi yang siap mengangkut berkarung-karung konsep yang telah selesai diproduksikan… Pada titik inilah Sutardji memberikan suatu aksentuasi baru kepada daya-cipta atau kreativitas. Sastra yang kreatif adalah sastra yang menciptakan makna dalam kata-kata yang digunakannya, dan bukan sekedar memakai makna-kata yang ada. “ (Ignas Kleden, Horison, Juni 2001).
Avg Rating
3.66
Number of Ratings
122
5 STARS
17%
4 STARS
43%
3 STARS
30%
2 STARS
10%
1 STARS
1%
goodreads

Author

Sutardji Calzoum Bachri
Sutardji Calzoum Bachri
Author · 3 books

Sutardji Calzoum Bachri is a famous Indonesian poet. Even some people would say he is 'The President of Indonesian Poets'. The peak of Tardji's literary career is considered to have been during the 1970s. Back then, he successfully launched a credo of 'freeing words of their meanings'. His style of reading is often explosive in the manner of old Indonesian Dukun, incantations stemming from Indonesian pre-Islamic shaministic practice, still used today. The style of Tardji's poetry has been described as that of a mantra. He has been quoted to say that the mantra is the true use of words. His poems appeared in literary magazines such as Horison and Budaya Jaya, as well as in the literary pages of national daily newspapers such as Sinar Harapan and Berita Buana. Later he joined the editorial board of Horison; and was appointed senior editor in 1996. Between 2000-2002 he was the poetry editor of Bentara, a monthly cultural supplement of the newspaper Kompas. Placed among the leading figures of modern Indonesian literature, he attended the Poetry International Festival in Rotterdam summer of 1974. In the same year, he spent 6 months as a participant in the International Writing Program in Iowa City, USA . With fellow Indonesian poets KH Mustofa Bisri and Taufiq Ismail, Sutardji took part in the International Poets Meeting in Baghdad, Iraq . In 1997, he was invited to read his poetry at the International Poetry Festival in Medellin, Colombia . His short story collection, entitled Sutardji received an SEA Writer Award from the King of Thailand in 1979 and an Arts Award from the Indonesian government in 1993. He is also the recipient of the 1998 Chairil Anwar Literary Prize, and in 2001 he was awarded the title Sastrawan Perdana (Prime Man of Letters) by the regional government of Riau. Select Bibliography: O, 1973 Arjuna in Meditation, 1976 Amuk (Amok), 1977 Sutardji, 1979 Kapak (Axe), 1979 O Amuk Kapak, 1981 Hujan Menulis Ayam (Rain Writing Chicken), 2001

548 Market St PMB 65688, San Francisco California 94104-5401 USA
© 2026 Paratext Inc. All rights reserved