
Datang sebagai juri pengganti untuk Festival Film International Pyongyang ke-8 pada tahun 2002, ternyata bukanlah film-film peserta festival itu yang menarik perhatian penulis buku ini, melainkan Kota Pyongyang itu itu sendiri, sebagai ibukota Republik Rakyat Demokratik Korea, negeri komunis ortodoks yang masih tersisa di muka bumi, yang lebih dikenal sebagai Korea Utara. Kota dan berbagai perilaku manusia di dalamnya teramati selama bertugas 17 hari di Pyongyang, menghasilkan catatan dan jejak mata berupa foto-foto, yang hanya bisa didapatkan dengan menyiasati berbagai larangan. Buku ini tidak membahas pandangan politik, melainkan sketsa kenangan seseorang dari negeri seperti Indonesia, yang setelah 10 tahun masih saja tak habis pikir dengan peranan negara, dalam usaha mencekoki isi kepala warganya.
Author

Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book. He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996. Mailing-list Seno Gumira fans: http://groups.yahoo.com/group/senogum...