
Kabiru, panggilan kecil Biru. Dewasa, mapan, dan dianggap sudah siap lahir batin untuk berkeluarga. Kasus klise. Dia bungsu dan masih melajang. Dua perkara yang cukup logis membuat Mama tercintanya merasa geregetan, hingga terus menuntut agar dia segera membawa calon istri ke rumah. Namun sayang, sepanjang hidupnya yang sudah memasuki umur tiga puluh tahun, Biru meyakini kalau dirinya memang belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Alhasil, hal tersebut sukses membuatnya kesulitan saat ingin mencari seorang istri. Teman-temannya pun mulai menawarkan bantuan dan solusi. Awalnya, bantuan tersebut terasa janggal bagi Biru. Namun setelah dipikirkan kembali, mau tidak mau Biru harus mengakui, kalau bantuan tersebut terlihat paling realistis di kepalanya.