
Dinamika gambaran kehidupan manusia yang terus-menerus berubah menyebabkan sebagian manusia tidak mengindahkan lagi, mana yang harus dilakukan mana yang dilarang. Kebenaran, kebebasan, keadilan menjadi barang langka yang hanya menjadi impian belaka. Kekejaman telah memunculkan ketakutan, kegelisahan, kesengsaraan. Agar terbebas dari tekanan yang menyiksa, Kalatidha menyajikan sebuah potret bagaimana seseorang telah hidup di alam khayalnya dengan bahagia. Impian dan cita-cita yang selama ini didambakan, hanya dapat untuk menggambarkan bagaimana seseorang telah memenjarakan dirinya dari kehidupan nyata. Kehidupan nyata yang ia pahami hanyalah dunia yang dapat memberinya kesenangan, kegembiraan dan keceriaan. Hal-hal aneh yang dianggap menyimpang oleh masyarakat pada umumnya bukan merupakan celaan baginya. Satu hal yang ia yakini bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan, dan bagaimana ia menjalankannya. Kekosongan dan kehampaan bukan lagi siksaan, tapi sebuah proses yang harus dilewati dalam menempuh perjalanan. Kalatidha telah menjadi sebuah potret bagaimana pergolakan batin menjadi fokus sebuah lukisan kenyataan semu. Kepalsuan dan kepurapuraan adalah hal bodoh, dan kegilaan adalah tindakan dari suatu keputusasaan.
Author

Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book. He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996. Mailing-list Seno Gumira fans: http://groups.yahoo.com/group/senogum...