
"Roman pertama yang ditulis Kuntowijoyo menjelang usia 23 ini dapat dianggap sebagai realis, sekaligus historis, tetapi pemuda yang kelak melontarkan kredo “Maklumat Sastra Profetik”, berhasil menghindari sentimentalisme heroik, sehingga Kereta-Api yang Berangkat Pagi Hari tidak menjadi cerita yang mengisahkan ‘revolusi fisik’ secara sepihak. Selain adegan memasang kawat dinamit untuk meledakkan jembatan, berikut ledakannya, tiada adegan laga sepanjang roman ini, selain konflik pribadi para peran sendiri. Dalam konteks masa terbit, meski roman ini berkisah tentang situasi 1949, relevan pula sebagai tanggapan situasi penuh konflik 1965-1966." — Seno Gumira Ajidarma "Sampai di sini saja saya sudah sangat girang. Apalagi jika akhirnya Kereta-Api yang Berangkat Pagi Hari yang selama ini dianggap hilang itu benar-benar bisa dibangkitkan dari obskuritasnya. Itu pasti akan jadi hadiah besar bagi sastra Indonesia. Dan, untuk saya pribadi, mitos besar itu barangkali akan segera menjadi sejarah.”— Mahfud Ikhwan
Author

Kuntowijoyo was born at Sanden, Bantul, Yogyakarta. He graduated from UGM as historian and received his post-graduated at American History by The University of Connecticut in year 1974, and gained his Ph.D. of history from Columbia University in year 1980. His father was a puppet master (dalang) and he lived under deep religious and art circumstances. He easily fond of art and writings and became a good friend of Arifin C. Noer, Syu'bah Asa, Ikranegara, Chaerul Umam, and Salim Said. His first work was "Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari".