
Kesusastraan, Kehancuran memproyeksikan sastra dalam simulasi kehancurannya. Buku ini berangkat dari ingatan Martin Suryajaya akan geliat sastra yang konsisten menolak kapok. Sebagai pemandangan dan taksiran atas kondisi objektif sastra Indonesia pada alaf ketiga serta pantulan-pantulan sastra dunia yang tidak berubah: selalu digentayangi ketidakpastian sejak berabad-abad silam, Martin mengajak kita untuk ikutan merasa repot, tekor dan, kedodoran bersama akibat sastra secara khusus, dan kesenian secara umum. Bentangan uraian dalam buku ini mengelaborasikan dua tegangan faktual dalam kesenian di mana pun: (1) kebuntuan gerakan avant-gardisme dan (2) kemustahilan tradisi. Tersebab dua kenyataan tersebut, Martin mengumpan balik suatu refleksi tentang ‘sastra pedalaman’ yang menjadi motor spirit sastra Dunia Ketiga. Suatu refleksi yang mulanya adalah tentang ‘orientasi’ kemudian berubah menjadi tentang ‘disorientasi’.
Author

Martin Suryajaya meraih gelar doktor di bidang filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Sehari-hari ia bekerja sebagai pengajar pada Sekolah Pascasarjana, Institut Kesenian Jakarta dan konsultan kebijakan di Direktorat Jenderal Kebudayaan. Ia juga aktif sebagai youtuber yang menyiarkan pandangan-pandangan tentang filsafat, sastra dan isu-isu kebudayaan dengan penyampaian yang populer. Beberapa bukunya antara lain Sejarah Estetika (Gang Kabel, 2016) yang memenangkan penghargaan Best Art Publication dari Art Stage 2017 dan novel Kiat Sukses Hancur Lebur (Banana, 2016) yang memenangkan Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2018 serta menjadi Novel Pilihan Majalah Tempo 2016. Beberapa karya terbarunya adalah buku puisi Terdepan, Terluar, Tertinggal (Anagram, 2020) dan Principia Logica (Gang Kabel, 2022) dan Penyair sebagai Mesin (Gang Kabel, 2023).