
Hingga kini, buku ini adalah studi yang paling komprehensif tentang teks dan institusi sinema Indonesia setelah kontra-revolusi tahun 1965 yang digerakkan oleh militer. Krishna Sen menunjukkan bahwa sinema Indonesia tidak bisa dipahami kecuali dengan merujuk pada transformasi-transformasi ekonomi dan politik yang dibawa oleh pemerintahan Orde Baru dibawah Jenderal Soeharto. Terjebak dalam gerakan nasionalis radikal sebelum tahun 1965, sinema Indonesia dibersihkan dari elemen-elemen radikalnya dan menjadi, dengan pengecualian stasiun televisi milik negara, media massa yang paling dikontrol secara ketat. Meski demikian, pada momen-momen penuh letupan radikal, penulis menunjukkan bagaimana sinema beraliansi dengan para pengkritik rezim Soeharto yang notabene adalah kelas menengah. Di bagian pertama, Krishna Sen menjelaskan secara rinci latar belakang sejarah dan memeriksa struktur industri sinema Indonesia di bawah Orde Baru. Adapun bagian kedua adalah analisis yang menarik atas beragam teks filmis. Di sini penulis menunjukkan bagaimana hubungan-hubungan sosial di Indonesia terkonstruksi secara diskursif dalam sinema, dan lebih jauh lagi dalam diskursus-diskursus politik Orde Baru yang dominan. Kuasa dalam Sinema adalah buku yang sangat kaya serta memuat ilustrasi sejumlah poster dan still film. Buku ini menunjukkan pentingnya kebudayaan popular dalam memahami posisi rezim Soeharto secara nasional maupun internasional, dan analisis penulis tentang politik tekstual Indonesia akan sangat tak ternilai harganya bagi siapapun yang tertarik dengan isu pembangunan identitas nasional.