
Dulu, Mat kadang bertanya-tanya, untuk apa dirinya ada di tengah manusia-manusia lain, selain sebagai gangguan. la sebodoh batu, tapi setidaknya batu bisa untuk mengganjal roda truk di tanjakan jalan. la bau seperti kotoran ayam, tapi kotoran ayam konon bikin gembur tanah. Jika ia pergi, Mat yakin tak akan ada yang mencarinya. Ibunya mungkin sedikit sedih, tapi kesedihannya akan sembuh tertimbun oleh kesedihan lain. Kini ia menemukan bahwa dirinya bisa membuat orang tersenyum, bertepuk tangan, membelalakkan mata, bahkan menjerit ketika ia nyaris menjatuhkan pisaunya. Ia bisa lebih baik dari batu, juga dari kotoran ayam. Dan semua itu karena si pisau. Mat Pisau, cerpen terbaru Eka Kurniawan, berkisah tentang anak yang terbuang dari masyarakat dan menemukan cahaya pada sebilah pisau.
Author

Eka Kurniawan was born in Tasikmalaya in 1975 and completed his studies in the Faculty of Philosophy at Gadjah Mada University. He has been described as the “brightest meteorite” in Indonesia’s new literary firmament, the author of two remarkable novels which have brought comparisons to Salman Rushdie, Gabriel García Márquez and Mark Twain; the English translations of these novels were both published in 2015—Man Tiger by Verso Books, and Beauty is a Wound by New Directions in North America and Text Publishing in Australia. Kurniawan has also written movie scripts, a graphic novel, essays on literature and two collections of short stories. He currently resides in Jakarta. Eka Kurniawan, seorang penulis sekaligus desainer grafis. Menyelesaikan studi dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Karyanya yang sudah terbit adalah empat novel: Cantik itu Luka (2002), Lelaki Harimau (2004), Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014), dan O (2016); empat kumpulan cerita pendek: Corat-coret di Toilet (2000), Gelak Sedih (2005), Cinta Tak Ada Mati (2005), dan Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (2015); serta satu karya non fiksi: Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (1999).