
Otak saya berhamburan beserta segala kenangan, visual, dan pengetahuan yang telah saya serap. Tiba-tiba saya merasa beruntung karena peluru dari si Pembunuh Bayaran meleset. Perasaan itu membingungkan saya karena sebenarnya saya sendirilah yang merancanakan pembunuhan ini. Mengapa saya tiba tiba takut untuk mati? "Saya menulis cerpen-cerpen dalam buku ini sebagai proses pembebasan akan makna di lingkungan saya. Setiap cerpen berisi kegelisahan saya akan berbagai norma, moral, dan dogma warisan masyarakat. Menulis menurut saya adalah pengungkapan kebebasan dari perasaan terjebak dalam pikiran (Sayyidatul Imamah)."