
Part of Series
Kesadaran politik dalam diri Hatta mulai berkembang setelah ia bersekolah di MULO. Terutama, dalam kedudukannya sebagai pelajar yang mulai mengenal Jon Sumatranen Bond (JSB), kemudian menjadi anggota pengurus perkumpulan ini. Ia menghadiri ceramah atau pertemuan politik yang diadakan tokoh lokal (seperti Sutan Saidi Ali, guru sekola Adabiah). Sedangkan dari Jakarta seperti Abdoel Moeis (1878 - 1959) dari Sarekat Islam, yang memang sering berkunjung ke Minangkabau dari Jakarta untuk keperluan partai. Apabila ke Padang, Moeis sering membangkitan kesadaran rakyat akan hak-hak mereka, terutama ia sangat menentang kebijakan pemerintah dalam soal tanah dan rodi di daerah tersebut. Pengenalan tentang perkembangan masyarakan, termasuk politik, diperolah Hatta pula dari pergaulannya dengan aktivis Serikat Usaha, semacam kamar dagang lokal tempat pedagang-pedagan bumiputera berkumpul dan bekerja sama untuk memajukan usaha mereka. Terutama dengan Taher Marah Sutan, sekretaris Serikat Usaha ini, ia bergaul akrab. Darinya Hatta memperoleh penmgaruh tentang cara-cara kerja yang penuh disiplin. Disiplin ini dipupuknya lebih intensif ke tika iya bersekolah di Prins Hendrik Handels School (Sekolah Dagang Prins Hendrik) di Jakarta, seusai menamatkan sudinya di MULO Padang. Sekolah dagang ini telah menumbukan sifat dan cara yang "cepat, tepat, dan teratur"
