Margins
Margins
Sign in
Margins
Subscribe to our newsletter
548 Market St PMB 65688, San Francisco California 94104-5401 USA
hello@margins.app
·
+1 (650) 223-5283
Privacy Policy
·
Terms of Use
© 2026 Paratext Inc. All rights reserved
🏠 Owned
🏠
Owned
Max Havelaar, or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company
1860
Multatuli
Max Havelaar - a Dutch civil servant in Java - burns with an insatiable desire to end the ill treatment and oppression inflicted on the native peoples by the colonial administration. Max is an inspirational figure, but he is also a flawed idealist whose vow to protect the Javanese from cruelty ends in his own downfall. In Max Havelaar, Multatuli (the pseudonym for Eduard Douwes Dekker) vividly recreated his own experiences in Java and tellingly depicts the hypocrisy of those who gained from the corrupt coffee trade. Sending shockwaves through the Dutch nation when it was published in 1860, this damning exposé of the terrible conditions in the colonies led to welfare reforms in Java and continues to inspire the fairtrade movement today. Roy Edwards' vibrant translation conveys the satirical and innovative style of Multatuli's autobiographical polemic. In his introduction, R. P. Meijer discusses the author's tempestuous life and career, the controversy the novel aroused and its unusual narrative structure.
The Harsh Cry of the Heron
2006
Lian Hearn
The Harsh Cry of the Heron is the rich and stirring finale to a series whose imaginative vision has enthralled millions of readers worldwide, and an extraordinary novel that stands as a thrilling achievement in its own right. A dazzling epic of warfare and sacrifice, passionate revenge, treacherous betrayal, and unconquerable love, The Harsh Cry of the Heron takes the storytelling achievement of Hearn's fantastic medieval Japanese world to startling new heights of drama and action. Fifteen years of peace and prosperity under the rule of Lord Otori Takeo and his wife Kaede is threatened by a rogue network of assassins, the resurgence of old rivalries, the arrival of foreigners bearing new weapons and religion, and an unfulfilled prophecy that Lord Takeo will die at the hand of a member of his own family. The Harsh Cry of the Heron is the ultimate conclusion to the Tales of the Otori series that both completes the characters' lives and brilliantly illuminates unexpected aspects of the entire Otori saga.
Critical Eleven
2015
Ika Natassa
Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger. In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan. Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya. Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka. Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.
Hujan Bulan Juni
2015
Sapardi Djoko Damono
Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar sapu tangan yang telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang. Bagaimana mungkin.