
Kalau cinta, jangan dibunuh. Perjuangkan! Perempuan itu tersenyum dengan sepasang mata bundar dan setangkup bibir tipis. Hidungnya yang bangir bertakhta di wajah tirus putih. Rambutnya sedikit berombak, lepas terurai. Dialah Putri Chaya, seorang penari rupawan yang menjerat hati Bagus. Pertemuan singkat itu, tak hanya mampu membuat Bagus dimabuk kepayang, juga membuka matanya soal sepotong sejarah Melayu yang tersingkirkan. Sejarah perihal Sumatera Timur yang tak hanya dilupakan oleh penduduk sekitar, juga tak dianggap oleh Pemerintah Pusat. Juga membawanya bersua dengan Tengku Natashya, perempuan menawan keturunan bangsawan sekaligus pegiat kebudayaan. Bagus tak bisa menampik ketika dua perempuan itu sama-sama memberinya cinta. Hatinya dipenuhi kebahagiaan. Dahaganya terpuaskan. Namun, di Jakarta dia telah dinanti Mia, istri beserta dua anaknya. Ke manakah hatinya akan disandarkan? Cinta milik siapa yang harus Bagus perjuangkan? Cinta selalu menyimpan kejutan di setiap episodenya.
Author
Yudhistira Ardi Noegraha Moelyana Massardi was born in Subang, West Java, 1954. Yudhistira has made himself one of the most controversial of Indonesia's younger authors. He writes for various newspaper and women's magazines, largely about romantic love among adolescents. In 1976, at the age of 22, he was the assistant editor of a popular magazine, Le Laki, that survived until 1978. But he is also an occasional contributor to the serious literary journal Horison. Since March 1976, he has worked as a journalist for the weekly newsmagazine Tempo, edited by Gunawan Mohamad, himself a noted poet and essayist. To regard Yuhistira simply as a writer of "pop" quality, as a number of critics do, is a mistake. His typical style is indeed usually light-hearted, witty, and sarcastic.