
Bagaimana cara gagasan modern menggerakan rakyat? Seberapa jauh gagasan dapat mengonsolidasi kekuatan-kekuatan sosial dalam masyarakat sehingga melahirkan organisasi politik, pemogokan dan bahkan perlawanan bersenjata? Persoalan bahasa menjadi sangat penting untuk menjawab pertanyaan tersebut. Bahasa bukan sekadar alat penyampai gagasan yang statis. Lebih dari itu, bahasa adalah medan perang bagi gagasan-gagasan. Pertentangan antara kekuatan-kekuatan sosial dalam masyarakat dapat dilihat pada kemunculan, perkembangan hingga hilangnya kosakata tertentu. Di Hindia Belanda abad XX, pertentangan ini mendapat panggung pada surat kabar. Pergolakan sosial dan perkembangan dunia cetak-mencetak akibat kapitalisme menjadi landasan rakyat bumiputra untuk bersuara lewat tulisan. Kekuasaan kolonial pun bereaksi dengan bersenjatakan bahasa. Buku ini menguraikan hubungan antara bahasa, ideologi dan hegemoni politik pada masa pergerakan. Cara rakyat mengartikan persoalan sosial dan posisi mereka sendiri dalam berhadapan dengan persoalan tersebut serta bagaimana sebenarnya gagasan digerakkan di dalam kenyataan dan hubungannya dengan perkembangan politik dijelaskan di dalam buku ini.
Author

Hilmar Farid adalah sejarawan, aktivis, dan pengajar. Ia senang memasak, berenang dan bermusik untuk mengisi waktu senggang. Menyelesaikan studi S-1 di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1993) dengan skripsi tentang politik bahasa kaum pergerakan di masa kolonial. Setelah lulus, dia mendirikan Jaringan Kerja Budaya bersama beberapa orang seniman, pekerja budaya dan peneliti di Jakarta. Dia sempat bekerja dan mengajar di Institut Kesenian Jakarta (1995-1999), memimpin Institut Sejarah Sosial Indonesia (2002-2007), dan menjadi ketua Perkumpulan Praxis sejak 2012. Dia aktif dalam Inter-Asia Cultural Studies Society, Asian Regional Exchange for New Alternatives (ARENA) dan gerakan kemanusiaan di Indonesia dan Timor Leste. Tulisannya mencakup ”Kolonialisme dan Budaya: Balai Pustaka di Hindia-Belanda,” untuk majalah Prisma (1991); ”Covering Strikes: Indonesian Workers and Their Media” (1997); ”The Struggle for Truth and Justice in Indonesia: A Survey of Transitional Justice Initiatives throughout Indonesia” (2004); Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65 (2004); ”The Class Question in Indonesian Social Sciences”, dalam buku berjudul Social Science and Power in Indonesia (2005); ”Indonesia’s Original Sin: Mass Killings and Capitalist Expansion, 1965-66” (2005); dan ”Batjaan Liar in the Dutch East Indies: A Colonial Antipode” (2008). Pada 31 Desember 2015, ia dilantik menjadi Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia.