
Dalam buku puisi ini, Triyanto telah memutuskan untuk menjadi dalang. Dari mana sang dalang inimendapatkan repertoire-nya? Mungkin tidak perlu kita mengusut asal-muasal kisah-kisah yang disampaikannya, yang sebagaian besar berkaitan dengan judul buku, Pertempuran Rahasia. Dalam kehidupan orang jawa, pertempuran yang paling dahsyat memang ditemukan dalam salah satu bagian Mahabharata, yang mengisahkan buah perseteruan antara dua kubu yang sebenarnya berasal dari satu wangsa yang sama, yang berlangsung di sebuah medan pertempuran yang sekaligus merupakan makam terakhir para ksatria yang, meskipun dikisahkan terbunuh dengan kejam, tetap hidup dalam dnia orang jawa. Setidaknya pada zaman yang sudah agak lama lampau. Dari rangkaian kisah pewayangan yang aslinya dituturkan dalam berjilid-jilid buku, yang ditulis oleh pujangga India dalam berbagai versi, Triyanto menghidupkan kembali tokoh-tokoh yang terlibat dalam sejumlah peristiwa yang, setidak-tidaknya dalam pementasan wayang kulit, lebih banyak menampilkan tindakan tinimbang renungan. Peristiwa, dengan demikian menjadi lebih penting—antara lain karena wayang adalah tontonan. Namun, bagi dalang Triyanto yang penting bukan peristiwa tetapi tokoh, bahkan mungkin bukan si tokoh tetapi apa yang mendidih dalam benak si tokoh.
Author

Triyanto Triwikromo (lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 15 September 1964; umur 50 tahun) adalah sastrawan Indonesia. Redaktur sastra Harian Umum Suara Merdeka dan dosen Penulisan Kreatif Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang, ini kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra, antara lain menjadi pembicara dalam Pertemuan Teater-teater Indonesia di Yogyakarta (1988) dan Kongres Cerpen Indonesia di Lampung (2003). Ia juga mengikuti Pertemuan Sastrawan Indonesia di Padang (1997), Festival Sastra Internasional di Solo, Pesta Prosa Mutakhir di Jakarta (2003), dan Wordstorm 2005: Nothern Territory Festival di Darwin, Australia. Cerpennya Anak-anak Mengasah Pisau direspon pelukis Yuswantoro Adi menjadi lukisan, AS Kurnia menjadi karya trimatra, pemusik Seno menjadi lagu, Sosiawan Leak menjadi pertujukan teater, dan sutradara Dedi Setiadi menjadi sinetron (skenario ditulis Triyanto sendiri). Penyair terbaik Indonesia versi Majalah Gadis (1989) ini juga menerbitkan puisi dan cerpennya di beberapa buku antologi bersama.