
"Ayo kita menikah." What? Apa sih yang barusan kuucapkan? Mengajak Raga menikah? Padahal menikah bukan prioritasku. Tapi, rasanya jahat sekali kalau aku menarik ucapanku. Jelas-jelas aku melihat binar bahagia dari wajahnya, setelah beribu kali kutolak lamarannya. Damn! But life must go on, Aria. Ketimbang kuping panas mendengar sindiran Mami dan ocehan Citra yang sudah kebelet nikah, tapi tidak dibolehkan Mami karena kakak perempuannya ini belum menikah. Mari, akhiri saja drama-desakan-menikah itu dengan menuruti keinginan mereka. Namun, kekacauan itu terjadilah. Konsep acara, undangan, pakaian, catering. Ditambah perbedaan prinsip antara aku dan Raga. OMG, ke mana saja aku selama ini? Sudah pacaran sembilan tahun tapi belum mengenalnya luar dalam. Belum menikah saja sudah begini, bagaimana besok setelah tinggal serumah dan seumur hidup?
Author

Pecinta genre romance yang masih menunggu cinta, sekaligus mencari arti cinta itu sendiri (halah). Penyuka sunyi yang lebih menggilai kopi daripada air putih, cokelat batang daripada es krim, matahari terbit daripada matahari terbenam. Pemimpi yang lebih sering mimpi dalam keadaan mata terbuka, dan mulai jarang mimpi pas tidur lelap. Suatu saat bakal coba nulis genre horor, kalau fobia setannya sudah berkurang.