
Ejaan bahasa Indonesia terus berevolusi. Ejaan van Ophuijsen resmi menggantikan ejaan bahasa Melayu sejak disahkan oleh pemerintah Belanda pada 1901. Pada 1947, Raden Mas Soewandi Notokoesoemo menetapkan Ejaan Soewandi atau Ejaan Republik. Ejaan yang Disempurnakan (EYD) diberlakukan pada 1972 untuk menyempurnakan Ejaan Soewandi. Lalu, pada 2015, Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) hadir untuk menggantikan EYD. Namun, pada 2022, EYD kembali diterbitkan dengan mempertimbangkan keakraban namanya bagi masyarakat Indonesia. Ejaan memang susah-susah gampang. Namun, perjalanan panjang ejaan bahasa Indonesia membuktikan ia penting dan dibutuhkan. Dengan subjudul Berkawan dengan Ejaan, seri kedua buku Renjana ini merangkum aspek-aspek ejaan dengan tuntas, mulai dari huruf sampai dengan penulisan khusus. Narabahasa berharap buku ini dapat menjadi sumber referensi yang bermanfaat bagi para pembaca dalam mengenali, memahami, dan mengakrabi ejaan, seperti seorang teman.