
KEKALAHAN selalu mendatangkan kritik, sebaliknya kemenangan mendatangkan pujian. Tidak mengherankan bahwa kekalahan yang diderita Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam pemberontakannya tahun 1926—1927 oleh seorang ilmuwan dikatakan kacau pengorganisasiannya dan karenanya mudah dikalahkan oleh pemerintah. Oleh sebagian orang yang ikut dibuang ke Boven Digoel di tengah rimba raya Irian sendiri pemberontakan itu juga dikecam. Banyak di antara mereka yang kemudian berbalik gagang memusuhi jajarannya dan berpihak pada Pemerintah Hindia Belanda yang sebelumnya ikut diberontakinya. Oleh mereka yang sangat anti-PKI, pemberontakan ini (secara keliru) malah dihitung yang pertama dalam rangkaian pemberontakan dan pengkhianatan PKI (yang kontroversial) terhadap pemerintah. Diketahui juga, sebelum meletus orang sudah mengkritiknya. Belum waktunya, kata Tan Malaka yang waktu itu menjadi anggota pimpinan Komunis Internasional (Komintern). Jozef Stalin sebagai pimpinan Komintern lebih tegas lagi. Ia minta agar pemberontakan itu dibatalkan, ketika ia mendengar laporan tentang rencananya dari Muso dan Alimin sebagai utusan PKI yang ditugaskan melapor. Tapi apa boleh dikata, yang sudah terjadi tak dapat ditarik kembali. Lagi pula kegagalan dan kekalahan bukan monopoli PKI atau partai politik mana pun. Sebelum Vladimir Lenin sukses besar dengan revolusi sosialisnya (1917), partainya sudah pernah mengalami kehancuran. Sebelum Fidel Castro sukses besar dengan revolusi sosialisnya yang pertama di benua Amerika (1959), ia pun pernah mengalami kehancuran. Rakyat Jerman yang melahirkan Karl Marx dan meneorikan ”Marxisme” mengalami gagal total (1921) dan baru dapat mendirikan negara sosialis di sebagian wilayahnya hanya karena dibebaskan tentara Sovyet. Lagi pula kekalahan adalah saudara kembar kemenangan. Kegagalan saudara kembar keberhasilan. Kekalahan dan kegagalan adalah ulah dunia, sebagaimana kemenangan dan keberhasilan. Karenanya, sepahit apa pun kekalahan dan kegagalan dalam sejarah nasional, regional, lebih-lebih internasional, patut dicatat, sebagaimana kemenangan dan keberhasilan. Apalagi karena selalu ada segi positif dari kekalahan dan kegagalan, sebagaimana segi negatif dalam kemenangan dan keberhasilan. Dalam perspektif inilah catatan sejarah ini dibuat. Untuk mengingatkan siapa pun yang lupa, seolah-olah hanya harus mengingat kemenangan dan keberhasilan.
Author

Koesalah Soebagyo Toer, lahir di Blora, Jawa Tengah, 27 Januari 1935. Setamat SMP di Blora beliau meneruskan pendidikan di Taman Dewasa dan Taman Madya, Kemayoran, Jakarta, dan Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Sastra UI (tidak tamat). Pada 1960-1965 beliau belajar di Fakultas Sejarah dan Filologi Univ Persahabatan Banga-bangsa, Moskwa. Pada 1965-1967 dia menjadi dosen bahasa Rusia di Akademi Bahasa Asing (ABA) Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PPK). Pada 1968-1978 menjadi tahanan politik Pemerintah Orde Baru. Sekarang berprofesi sebagai penerjemah bahasa Inggris, Belanda, Rusia, dan Jawa. Buku-buku yang diterjemahlan antara lain: Jiwa Jiwa Mati (Nikolai Gogol), Anna Karenina (Leo Tolstoi), Musashi (Eiji Yoshikawa), Perdagangan Awal Indonesia (O.W. Wolters), Menjinakkan Sang Kuli (Jan Breman), serta sekumpulan serpen Anton Chekov, Pengakuan (KPG, 2004). Beliau menulis buku Kampus Kabelnaya: Menjadi Mahasiswa di Uni Soviet (KPG, 2003). dan bersama Pramoedya Ananta Toer serta Ediati Kamil menyusun buku Kronik Revolusi Indonesia, yang juga diterbitkan oleh KPG . Buku yang disuntingnya antara lain, Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel karya Mas Marco Kartodikromo (KPG 2002). Selain menerjemahkan buku, sekarang aktif menulis artikel tentang masalah-masalah bahasa, Sejarah, foklor, dan sedang menyusun kronik-kronik lain serta ensiklopedi sejarah Indonesia dan ensiklopedi foklor Jawa.