
Tak ada yang lebih mengejutkan ketimbang sebuah warisan yang aneh. Farah mengalami itu saat menerima peninggalan khusus dari kakeknya yang baru saja meninggal dunia, berupa Magelang FC, sebuah klub sepakbola profesional yang berlaga di Divisi II Liga Indonesia. Klub bola atau apapun, sebenarnya yang ia perlukan hanya sarana untuk membuatnya bisa sedikit lebih serius dan bertanggung jawab terhadap hidup. Kebiasaannya ngedugem dan beredar dari satu pesta jet set ke pesta lainnya membuat semua orang gerah. Mereka berharap Magelang FC akan memberi arah baru pada kehidupannya dan membuatnya berhenti menghambur-hamburkan uang—apalagi karena semua itu bukan duitnya sendiri. Sayang semua tak berjalan semulus yang direncanakan. Selain nol besar soal sepakbola, sifatnya yang semau gue dan gampang naik darah mengacaukan hari-hari awal pekerjaan barunya sebagai owner klub. Bahkan ia langsung terlibat perang dingin dengan Danu, mantan pesepakbola nasional yang direkrut menjadi pelatih baru Magelang FC. Namun bagaimanapun juga tugas berat untuk menyelamatkan klub dari jurang degradasi ke Divisi III tetap harus dilaksanakan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Farah harus pusing mengurusi orang lain, bukan dirinya sendiri. Ada Achie yang kasmaran pada Danu tapi takut bakal kena “amnesia perasaan”, ada Agus yang membuatnya jatuh suka tapi sayangnya sudah unavailable, Richard yang benci setengah mati padanya dan tak pernah pulang ke rumah, serta juga Danu yang takut bangkit lagi dari reruntuhan masa lalu yang suram. Tapi sebagaimana yang selalu tertulis di kartu-kartu ucapan, what doesn’t kill you only makes you stronger. Itu berlaku pula buat Farah.