Margins
Tragedimu Komediku book cover
Tragedimu Komediku
2023
First Published
4.16
Average Rating
276
Number of Pages

Tak selamanya kita membandingkan satu hal dengan hal lain untuk berkompetisi. Tak selamanya melihat merekamereka yang menjadi juara untuk mematok standar baru tentang apa yang berhasil. Sesekali kita perlu benar menoleh ke sisi lain, ke mereka yang tertatih-tatih, yang terjatuh, bahkan yang tak bisa berlari. Dunia semestinya tak melulu soal menjadi lebih baik setiap hari, tapi juga memastikan tak ada yang ditinggalkan. – Ada Rumput Tetangga Yang Lebih Kering Meranggas Sebagai seorang pembaca, dengan mudah saya juga akan membela banyak jenis novel sebagai karya sastra. Tak hanya novel romansa, tapi juga cerita silat, novel horor, atau cerita detektif. Seperti film-film Marvel, novel-novel itu juga tak hanya bisa dinikmati sebagai sensasi hiburan semata, tapi juga bisa menjadi pintu diskusi intelektual – Bukan Sinema, Bukan Sastra, Juga Bukan Kopi *** Satu hal yang bisa menerangkan apa isi buku ini, ia merupakan kumpulan sebagian besar esai-esai yang pernah ditulis Eka Kurniawan untuk Jawa Pos. Diawali beberapa tahun lalu ketika ia sesekali mengirimkan esai untuk ikut berkomentar mengenai perkara hangat. Tak banyak, mungkin satu atau dua esai dalam setahun. Bicara tentang sastra dan kebudayaan barangkali hal paling awal dan sering dilakukan. Tapi, diam-diam ia sering juga berpikir untuk menulis hal-ihwal lainnya. Politik, dinamika sosial, dan sedikit perbincangan mengenai etika atau sesat pikir dalam ranah filosofis, misalnya.

Avg Rating
4.16
Number of Ratings
45
5 STARS
29%
4 STARS
58%
3 STARS
13%
2 STARS
0%
1 STARS
0%
goodreads

Author

Eka Kurniawan
Eka Kurniawan
Author · 21 books

Eka Kurniawan was born in Tasikmalaya in 1975 and completed his studies in the Faculty of Philosophy at Gadjah Mada University. He has been described as the “brightest meteorite” in Indonesia’s new literary firmament, the author of two remarkable novels which have brought comparisons to Salman Rushdie, Gabriel García Márquez and Mark Twain; the English translations of these novels were both published in 2015—Man Tiger by Verso Books, and Beauty is a Wound by New Directions in North America and Text Publishing in Australia. Kurniawan has also written movie scripts, a graphic novel, essays on literature and two collections of short stories. He currently resides in Jakarta. Eka Kurniawan, seorang penulis sekaligus desainer grafis. Menyelesaikan studi dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Karyanya yang sudah terbit adalah empat novel: Cantik itu Luka (2002), Lelaki Harimau (2004), Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014), dan O (2016); empat kumpulan cerita pendek: Corat-coret di Toilet (2000), Gelak Sedih (2005), Cinta Tak Ada Mati (2005), dan Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (2015); serta satu karya non fiksi: Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (1999).

548 Market St PMB 65688, San Francisco California 94104-5401 USA
© 2026 Paratext Inc. All rights reserved