
Fauzan, Helmi, dan Munawar masih menempuh studi di Yogyakarta ketika gempa-tsunami menyapu kampung halaman mereka: Aceh. Dengan tajam, kabar berita berhamburan di berbagai kanal, namun tak satu pun bisa menenangkan mereka, terutama Fauzan yang sama sekali tak bisa menghubungi Dek Nong, kekasihnya. Mereka pulang sebagai relawan. Berminggu-minggu mengangkuti mayat, mendata nama orang mati dan selamat, dan khusus untuk Fauzan, mencari Dek Nong yang tak juga tampak wajahnya. Tahun berlalu dalam pencarian itu. Apakah Dek Nong telah pupus? Ataukah ia dijual ke Malaysia—sebagaimana kabar angin tentang perempuan-perempuan yang hilang usai tsunami? Ataukah jadi gila dan tak dikenali? Tahun berlipat ganda. Kilasan kabar dan pertanda silih berganti. Fauzan berkata telah ikhlas, karena hidup harus terus tumbuh. Namun, apa kita bisa mempercayainya?