
"Semua cerpen Akmal ditulis dalam kalimat yang amat efektif dan cerdas. Teknik penyajian dan daya getarnya amat menggugah." - Ahmad Tohari, sastrawan. "Pendek-pendek, penuh tuturan kisah, namun memuat tanya misterius setiap kali membacanya." - Dr. FX Muji Sutrisno, SJ, rohaniwan "Meski sudah sukses menulis Imperia>, Akmal Nasery Basral ternyata memiliki daya dan kesaksian tersendiri untuk menulis cerita-cerita pendek yang enak dan perlu dibaca." - Jaya Suprana, kolumnis "Akmal membawa kita ke lorong imajinasi yang terkadang agak gila namun berakhir mengejutkan syaraf. Subhanallah." "Akmal berhasil membuat konteks-konteks kecil cerita yang menawan dari esensi ide-ide yang sangat besar." - Andrea Hirata, novelis "Ceritanya adalah renungan, cermin kenyataan, perjalanan bagi hati dan logika, tak layak dilewatkan." - Syaharani Ibrahim, penyanyi "Di tengah riuh rendah permainan bahasa, Akmal tampil tak jumawa... Bahasa yang tak angkuh. Alur yang tak bersolek. Justru di sanalah intan ketulusan berdenting sempurna." - Donny Gahral Adian, dosen filsafat UI
Author

Akmal Nasery Basral adalah wartawan dan sastrawan Indonesia. Kumpulan cerpen pertamanya Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006) yang terdiri dari 13 cerpen termasuk long-list Khatulistiwa Literary Award 2007. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia. Saat ini tinggal di Cibubur, Bekasi, bersama istri, Sylvia, dan ketiga putri mereka, Jihan, Aurora, Ayla. Sebagai wartawan ia pernah bekerja untuk majalah berita mingguan Gatra (1994-1998), Gamma (1999), sebelum bekerja di majalah Tempo (2004-sekarang). Ia juga pendiri dan pemimpin redaksi majalah tren digital @-ha (2000-2001), serta MTV Trax (2002) yang kini menjadi Trax setelah kerjasama MRA Media Group, penerbit majalah itu, dengan MTV selesai Sebagai sastrawan ia termasuk terlambat menerbitkan karya. Baru pada usia 37 tahun, novel pertamanya Imperia (2005) terbit, dilanjutkan dengan Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006), serta Naga Bonar (Jadi) 2 (2007), novel dari film box-office berjudul sama yang disutradarai aktor kawakan Deddy Mizwar. Di luar minatnya pada bidang jurnalistik dan sastra, Akmal Nasery Basral juga dikenal sebagai pengamat musik dan film Indonesia. Ia termasuk anggota awal tim sosialisasi Anugerah Musik Indonesia. Ketika sosialisasi terhadap penghargaan utama bagi insan musik Indonesia ini dilakukan pada 1997, kalangan jurnalis diwakili oleh Akmal dan Bens Leo. Pada pergelaran AMI ke-10 (2006), Akmal ditunjuk sebagai ketua Tim Kategorisasi yang memformat ulang seluruh kategorisasi penghargaan. Di bidang perfilman Akmal menjadi satu dari lima juri inti Festival Film Jakarta ke-2 (2007), bersama Alberthiene Endah, Ami Wahyu, Mayong Suryo Laksono, dan Yan Widjaya.