
“Musik, mitos, mimpi, dan memori. Pernahkah Anda membayangkan seorang fotografer memotret hal-hal itu? Itulah yang dilakukan Bernard Batubara. Dia menunjukkan kepada kita bahwa puisi-puisinya yang kuat dalam ‘Angsa-angsa Ketapang’ adalah foto-foto yang dia dapatkan dari memotret keempat hal tersebut.” — M. Aan Mansyur (Penyair) “Menyaksikan pertumbuhan penyair Bernard Batubara di medium internet membuat saya bertanya mengapa di antara ribuan penulis blog yang menulis sajak setiap hari hanya ada sedikit saja yang bersungguh-sungguh menggelutinya sebagai sebuah penempuhan laku pendewasaan batin. Penyair Bernard Batubara menunjukkan kesungguhannya sebagai seorang penempuh. Ia belajar dari banyak sumber, minum dari banyak sumur, guna mencari tubuh dan jiwa sajak-sajaknya sendiri. Sebuah pencarian yang takkan singkat, tetapi tampaknya Bernard telah menetapkan niatnya lewat album ‘Angsa-angsa Ketapang’ ini.” — TS Pinang (Penyair) "Membaca kalian, saya – sebagaimana seringkali terjadi ketika saya membaca sehamparan karya tulis yang baik – terpesona lagi pada kata: MENULIS. Ini bukan sekadar kata kerja. Ini adalah sebuah kerja. Kalian sampai padaku, sebagai sajak-sajak, karena dia - penyair bernama Bernard Batubara itu – menuliskan kalian. Ada proses sederhana yang memukau di balik proses kerja menulis itu." — Hasan Aspahani (Penyair)