
Apakah bangsa ini pernah belajar dari sejarah? Bila jawabnya 'ya', mengapa berbagai persoalan yang sama, seperti korupsi dan kekerasan dengan segala bentuknya, masih saja merajalela? Lebih dari itu, benarkah sejarah Indonesia pada dasarnya hanyalah sejarah kelahiran suatu kekuasaan, naik ke puncak kejayaan untuk kemudian jatuh secara tragis? Dengan uraian yang bernas dan kaya catatan sejarah Ong Hok Ham menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Membaca buku ini, yang merupakan kumpulan artikel penulis di Kompas dari 1980-2002, kita seperti disadarkan bahwa sejarah bangsa ini seolah tak pernah bergerak menuju ke arah yang lebih baik. Tidak berlebihan bila buku ini patut dibaca oleh semua kalangan, terutama para penguasa.
Author

Onghokham (Ong Hok Ham) adalah seorang sejarawan dan cendekiawan Indonesia. Ia sering menulis pada kolom sejarah di majalah Tempo. Kumpulan tulisannya di majalah ini selama tahun 1976-2001 diterbitkan pada tahun 2002 dengan judul Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang. Sebagai sejarawan, Ong Hok Ham menulis banyak artikel mengenai kaum peranakan Tionghoa Indonesia. Lima belas dari puluhan artikelnya yang pernah diterbitkan Star Weekly kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa. Ong Hok Ham juga merupakan mantan dosen di Universitas Indonesia. Disertasinya selesai ditulis tahun 1975 dengan judul The Residency of Madiun; Priyayi and Peasant in the Nineteenth Century dan gelar Doktor diraihnya dari Universitas Yale, Amerika Serikat. Buah pemikiran Ong diabadikan dalam wujud pusat pelajaran sejarah Ong Hok Ham Institute di Jakarta Timur. Ia pensiun dari Universitas Indonesia pada tahun 1989. Ong Hok Ham meninggal dunia pada tanggal 30 Agustus 2007 karena stroke. Sebelumnya ia juga pernah terkena serangan stroke pada tahun 2001. Namun hal ini tidak mengganggu semangatnya untuk menulis, meskipun hanya dengan tangan kanannya.