
Derai Sunyi menampilkan diri sebagai novel yang sarat dengan beban pesan tentang perlakuan majikan kepada seorang pembantu. Asma Nadia telah menggarap persoalan ini dengan cukup baik. Ada kematangan emosi pengarang dalam mengendalikan dendam. Tak ada tuturan atau ragaan tentang bagaimana luapan amarah. Pengarang hanya mengungkapkan keterguncangan. (Abd. Rozak Zaidan dalam Pengantar) Kehadiran Asma sangat fenomenal dan akan memperkuat kehadiran novel-novel dakwah yang eksistensinya sangat nyata. Kita harus memberi ruang ekspresi pada karya-karyanya. (Ahmad Tohari) Asma Nadia yang saya kenal adalah wanita manis dengan sejuta pesona intelektual dan energi. Cerita terakhir yang dibuatnya ini penuh dengan nilai-nilai Islam yang memang dibutuhkan. Kita memiliki Ayu Utami dan Dewi Lestari dengan karya mereka, maka akan semakin lengkap rasanya dengan kehadiran Asma Nadia. (Marrisa Haque Fawzi) Asma Nadia yang saya kenal di bengkel sastra, telah berhasil merangkum dan menyatukan cinta, ketakutan, dan kengerian dalam novel ini. Saya percaya, pada saat yang akan datang dia akan setia pada sastra serius karena dia dekat dengan-Nya, sebagaimana dia serius dalam berdoa kepada-Nya. (Titis Basino P.I) Kepandaian Asma yang lain adalah cara dia menahan arus cerita. (Taufik Ikram Jamil)