
Tangannya yang kokoh tapi diselimuti kulit halus, menggapai lengan saya dengan sentuhan aneh. "Ini lembaran press release kamu", katanya simpatik, sambil menyerahkan kertas-kertas tak penting itu. Yang membuat saya diam beberapa detik, adalah pandangan tajamnya.Ia juga tidak menjauh.Sehingga saya bisa menangkap seluruh gambaran tubuhnya. Termasuk dua gundukan di dadanya. Astaga. Dia perempuan! "Nama saya Jo..." Suaranya bariton. Kemudian hari-hari saya bergulir, mengantarkan "astaga" demi "astaga" lainnya. Mulanya saya terenyak Lalu berusaha memaklumi Memahami Semakin mengerti Kemudian hanyut didalamnya Dia seperti udara yang menyelusup begitu saja dalam relung hidup saya. Dia perempuan. Saya perempuan. Kami bercinta