
Part of Series
Harian Kompas sejak awal berkomitmen kuat untuk memberi ruang bagi sastrawan. Cerpen Pilihan Kompas adalah ikhtiar Harian Kompas dalam berkomitmen dan bersetia merawat dan memajukan sastra Indonesia. Cerpen Pilihan Kompas sudah terselenggara sejak 1992 dengan terbitnya buku Cerpen Pilihan Kompas bertajuk “Kado Istimewa”. Lalu, dilanjutkan dengan malam penganugerahan Cerpen Pilihan Kompas. Tahun ini kami hadir dan semoga tetap bisa hadir pada tahun-tahun berikutnya mengiringi perkembangan sastra Indonesia yang kian matang, meski tak kunjung mapan. Sebagian besar cerpen-cerpen yang dimuat selama 2023 masih menggunakan gaya realisme sosial. Isu-isu yang diangkat dalam cerpen-cerpen kali ini relatif beragam dan relevan. Isu itu, antara lain kekerasan terhadap perempuan, kerusakan lingkungan, dan kematian. Isu-isu ini memang berulang hampir setiap tahun, tetapi tetap saja menarik karena dalam dunia nyata isu-isu tersebut tak pernah surut, seolah abadi. Maka, menjadi penting untuk menceritakannya kembali, terus, dan berulang kali guna menjaga kewarasan kita bahwa masih banyak hal-hal yang menjadi pekerjaan bersama.
Authors

Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book. He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996. Mailing-list Seno Gumira fans: http://groups.yahoo.com/group/senogum...
Aveus Har adalah nama pena dari seorang pria bernama Suharso yang tinggal Pekalongan. Sehari-hari pria ini berprofesi menjadi pedagang mie ayam.

Sasti Gotama adalah seorang dokter yang mencintai aksara. Ia gemar mengintip sisi tergelap jiwa manusia dan melukiskannya dalam deretan karya. Karyanya telah dibukukan dalam Kumpulan Cerita Penafsir Mimpi (Indigo Publisher, 2019). Cerpen-cerpennya telah tersiar di media cetak dan media online Indonesia. Bukunya, Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam (Diva Press, 2020), masuk dalam 5 besar buku sastra pilihan Tempo 2020, menjadi nominee Penghargaan Sastra Badan Bahasa Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi 2021, dan pemenang I Hadiah Sastra “Rasa” 2022.

Putu Wijaya, whose real name is I Gusti Ngurah Putu Wijaya, is an Indonesian author who was born in Bali on 11 April 1944. He was the youngest of eight siblings (three of them from a different father). He lived in a large housing complex with around 200 people who were all members of the same extended family, and were accustomed to reading. His father, I Gusti Ngurah Raka, was hoping for Putu to become a doctor, but Puti was weak in the natural sciences. He liked history, language and geography. Putu Wijaya has already written around 30 novels, 40 dramas, about a hundred short stories, and thousands of essays, free articles and drama criticisms. He has also produced film and soap-opera scripts. He led the Teater Mandiri theatre since 1971, and has received numerous prices for literary works and soap-opera scripts. He's short stories often appear in the columns of the daily newspapers Kompas and Sinar Harapan. His novels are often published in the magazines Kartini, Femina and Horison. As a script writer, he has two times won the Citra prize at the Indonesian Film Festival, for the movies Perawan Desa (1980) and Kembang Kertas (1985).


