
bahkan sunyi ladang sore serta burung pulang tak sempat mengejawantah kepergiannya bahkan jarak dan debu tak surut menyembilu kedalam matanya sebongkah kabut denyut tiga jam lawas adalah tepuk cakap yang tawar ia bertanya lagi pada dinding kosong jalan raya: “masihkah ada besok—; bisakah ada hari esok?” dan merepetisi dingin gerimis: “—tidakkah esok selalu pertanyaan...”