
Menulis puisi sama dengan memeluk. Ada yang lebih luas dari sekadar kata-kata dalam kalimat tersebut. Kalimat yang sering diungkapkan Aan Mansyur dalam berbagai kesempatan tersebut tanpa terduga memantik gagasan lahirnya buku himpunan puisi ini. Jika menulis puisi sama dengan memeluk dan membacanya sama dengan membalas pelukan, alangkah banyak pelukan yang saling menghangatkan yang tentunya melebihi kemampuan sepasang lengan untuk melakukannya. Namun demikian, buku puisi yang seharusnya menjadi media pertemuan yang menyenangkan dianggap sulit lahir. Beberapa naskah terpaksa tersimpan bertahun-tahun. Bukan karena sedang diendapkan oleh penyairnya tapi karena buku puisi dalam industri penerbitan dianggap penduduk pinggiran kota. Menjadi gerbang masuk dan diharapkan menjadi citra yang baik tapi sering dilupakan bahkan digusur. Untuk itulah, jika menulis puisi sama dengan memeluk, maka kami ingin mengantar pelukan dan mempermudah sepasang pelukan saling bertemu. Hanya dalam waktu tujuh hari sejak proyek Merentang Pelukan diumumkan lewat jejaring sosial, lebih dari 600 judul puisi terhimpun. Tanpa memperdulikan gender, usia ataupun latar belakang, dari puluhan penulis–yang wajib mengirim minimal 20 judul puisi–terpilih 13 nama yang kami himpun karyanya dalam buku ini. Belakangan kami ketahui, beberapa di antaranya penulis yang telah terlibat dalam beberapa buku antologi puisi namun ada juga yang menjadikan buku ini adalah kesempatan perdana mempublikasikan karya. Kami juga mendapati dua orang di antaranya masih berstatus pelajar. Usia muda yang mungkin menjadikannya rentan tuduhan bahwa karya mereka belum mengalami masa pengendapan yang cukup . Kepenyairan seseorang tentu tidak bisa dinilai dari beberapa judul puisi saja. Lima hingga tujuh judul puisi tidak cukup mewakili. Tanpa mengesampingkannya—jika menulis puisi sama dengan memeluk, maka yang kami lakukan adalah menyambut rentangan tangan mereka, lalu memberinya rajahan sebagai tanda selamat datang. Kami mengundang mereka memasuki dunia puisi, dunia yang bukan sekadar imaji. Selanjutnya menunggu,siapakah di antara mereka yang bisa bersenang-senang menikmati puisi, menciptakan keunikan dan menjadikan kata-kata bagian dari diri mereka. Jakarta,Oktober 2012 katabergerak
Authors

Andi Wirambara, lahir tanggal 24 September di Ambon. Seorang yang menyebut dirinya perindu yang terakreditasi. Menjadi juara pertama saat mewakili Jawa Timur pada tangkai lomba penulisan puisi Pekan Seni Mahasiswa Nasional 2012 (PEKSIMINAS XI) di Mataram. Karya-karyanya pernah dimuat di beberapa antologi cerpen dan puisi seperti Munajat Sesayat Doa (leutika Prio, 2011), Kulepaskan Kau dari Hatiku (Leutika Prio, 2011), Happy Birthday-Kumpulan Pemenang Lomba 4 tahun kemudian.com (Indie Book Corner, 2011), Gincu Merah (Nulisbuku, 2011), Cinta, Kenangan, dan Hal-Hal yang Tak Selesai (Gramedia Pustaka Utama, 2011), kumpulan flaschfiction fiksimini Malang MUAH! (Nulisbuku, 2011), Poetry Poetry from 226 Indonesian poets - Flows into the Sink into the Gutter (Shell, 2012), Sulfatara - Pelangi Sastra Malang dalam Puisi (Recist, 2012), Merentang Pelukan (Motion Publishing, 2012), Ice Cream and Love (Divapress 2013); Dunia di Dalam Mata (2013), Antologi Pertemuan Kita (2014) ; Sebuah Kota Menyambutku dengan Secangkir Robusta (2023). Buku-buku tunggalnya yaitu kumpulan puisi HARMONIKA LELAKI SEPI (Indie Book Corner, 2010), kumpulan cerpen SEKEPING TANDA (Indie Book Corner, 2011), kumpulan puisi LENGKUNG (Shell, 2012), dan TENTANG PERTEMUAN (Indie Book Corner, 2014). Saat ini menekuni dunia praktisi hukum.



Fitrawan Umar lahir di Pinrang, Sulawesi Selatan. Karya-karyanya pernah dimuat di beberapa antologi, seperti Merentang Pelukan (Motion, 2012), Dunia di Dalam Mata (Motion, 2013), Wasiat Cinta (Nala, 2013), Through Darkness to Light (UWRF, 2013), Esai tanpa Pagar (Nala, 2014), dan Out of Ubud (Yayasan Lontar, 2013). Ia pernah diundang sebagai penulis terpilih pada festival sastra internasional Ubud Writers and Readers Festival pada tahun 2013. Buku puisinya, Roman Semesta (Motion, 2014) meraih nominasi Anugerah Pembaca Indonesia 2014. Novel debutnya adalah Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan (Exchange, 2015). Fitrawan mengelola blog www.fitrawanumar.com dan Twitter @fitrawanumar. Ia bisa dihubungi secara personal melalui email: fitrawan.umar@gmail.com.

Faisal Oddang was born on 18th September 1994. He finished his study in Universitas Hasanuddin, focusing on Indonesian Literature. His books are: Poetry Collection Perkabungan untuk Cinta (Mourning for Love) and Manurung was shortlisted for Khatulistiwa Literary Award 2018, Novels: Tiba Sebelum Berangkat (Arriving Before Departing) was shortlisted for Khatulistiwa Literary Award 2018, Puya ke Puya (From One Heaven to Another) won 4th place in Jakarta Art Council Novel Competition 2014 and was chosen as the best novel in 2015 by Tempo Magazine. He achieved: Robert Bosh Stiftung and Literary Colloquium Berlin Grants 2018, Iowa International Writing Program 2018, Asean Young Writers Award 2014, Best Short Stories Writers 2014 by Kompas Daily, Prose Writer of The Year 2015 by Tempo Magazine, Best Essayist in Asean Literary Festival 2017. He was invited as a speaker in Ubud Writers and Readers Festival 2014, Salihara International Literary Biennale 2015 and Makassar International Writers Festival 2015, and participated in writer’s residency 2016 in Netherland by Indonesian National Book Committee. Email: faisaloddang@gmail.com
