
“Kenangan, bagi puisi Kiki Sulistyo, tidak bisa dibangkitkan dari mati. Ingatan hanya bisa dibangun sebagai kebaruan untuk mengisi relung-relung hampa dan celah-celah kosong yang dibingkai oleh pengalaman indrawi di masa kini. Maka, tampaknya, karena interioritas realitas ini begitu jenuh sedangkan eksterioritasnya tidak terjangkau, puisi Kiki Sulistyo menemukan tempat di ambang; di ranah periferal….” (Ari J. Adipurwawidjana).