
Diterbitkan dalam rangka 200 Tahun Raden Saleh Setelah 200 tahun kelahiran kelahiran Raden Saleh, buku ini bukan saja hadir untuk menjernihkan kontroversi ihwal jiwa kebangsaannya yang dipertanyakan. Lebih jauh lagi untuk memperlihatkan bagaimana sang bangsawan, maestro lukis dan ilmuwan ini telah mewariskan sesuatu yang luarbiasa mengejutkan pengaruhnya dalam sejarah pemikiran kebangsaan Indonesia dan mungkin jauh di luar bayangannya sendiri. Harsya W. Bachtiar, Peter B.R. Carey, dan Onghokham adalah sejarawan yang berusaha menguak warisan itu seraya menilai tentang siapa dia dan kedudukannya dalam sejarah. Raden Saleh selain dikenal sebagai maestro seni lukis di Indonesia yang menghasilkan karya-karya memukau dan luar biasa juga diingat dengan sinis dan penuh kecaman karena ia malah pergi ke Belanda selama bertahun-tahun dan mengabdi sebagai 'anak' dari Raja Willem III sementara sanak saudaranya memerangi Belanda bersama Pangeran Diponegoro. Setelah kembali ke Jawa memang telah membuat lukisan yang sangat indah dan mengharukan tentang penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang. Pada lukisan itu ia memasukkan dirinya sendiri ke dalam lukisan itu, berdiri menunduk dan dengan sifat penuh taksim di hadapan Pangeran.
Authors

Librarian Note: There is more than one author in the GoodReads database with this name. See this thread for more information. Laithwaite Fellow and Tutor in Modern History at Trinity College, Oxford. Peter Carey works on the history, contemporary politics and socio-economic development of Southeast Asia, specialising on Indonesia, East Timor, Cambodia and Burma.

Onghokham (Ong Hok Ham) adalah seorang sejarawan dan cendekiawan Indonesia. Ia sering menulis pada kolom sejarah di majalah Tempo. Kumpulan tulisannya di majalah ini selama tahun 1976-2001 diterbitkan pada tahun 2002 dengan judul Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang. Sebagai sejarawan, Ong Hok Ham menulis banyak artikel mengenai kaum peranakan Tionghoa Indonesia. Lima belas dari puluhan artikelnya yang pernah diterbitkan Star Weekly kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa. Ong Hok Ham juga merupakan mantan dosen di Universitas Indonesia. Disertasinya selesai ditulis tahun 1975 dengan judul The Residency of Madiun; Priyayi and Peasant in the Nineteenth Century dan gelar Doktor diraihnya dari Universitas Yale, Amerika Serikat. Buah pemikiran Ong diabadikan dalam wujud pusat pelajaran sejarah Ong Hok Ham Institute di Jakarta Timur. Ia pensiun dari Universitas Indonesia pada tahun 1989. Ong Hok Ham meninggal dunia pada tanggal 30 Agustus 2007 karena stroke. Sebelumnya ia juga pernah terkena serangan stroke pada tahun 2001. Namun hal ini tidak mengganggu semangatnya untuk menulis, meskipun hanya dengan tangan kanannya.