Dietrich Muller terbangun suatu malam. Ia mengingat jeritan orang-orang Yahudi di kamar gas nomor tiga di Auschwitz. Tak pelak, suara itu terus-menerus datang sepanjang sisa hidupnya. Ia yang lolos dari mahkamah internasional, masih tak juga lolos dari nurani. Bagaimana mungkin, Dietrich di Comberger ini, di usia delapan puluh tujuh tahun, dan sedang menanti sidang Tuhan di neraka, tak bisa tak mengingat suara orang-orang sengsara yang ia bunuh?