Radikalisasi berupa simulasi gerakan pada kondisi seperti inilah yang melahirkan sastra dari krisis itu sendiri, yaitu, krisis sebagai kondisi penciptaan jika bukan sumber penciptaan. Pluralisme secara absolut harus diterima, standarisasi sastra ditolak, beserta birokrasi nilai dan sejenisnya. Kreativitas hampir tidak bersekat pembatas dengan anarkisme. Kemungkinan terhadap sejumlah pilihan tersebut yang kelak membuat ekosistem sastra termasuk performa puisi punya kekuatan politik untuk melawan risiko-risiko penyeragaman pandangan hidup yang dibawa oleh pembangunan ekonomi.