
Terkenang Nyonya Rissa bukan sekadar kumpulan esai nostalgia. Buku ini adalah arsip hidup tentang bagaimana pop culture pinggiran, buku-buku roman picisan, film-film Category III, dan sandiwara radio membentuk sebuah generasi. Generasi yang dibesarkan bukan melulu oleh bacaan bermutu tinggi atau film-film festival, melainkan oleh karya-karya yang di masa itudianggap murahan, cabul, bahkan haram. Dan justru dari situ, lahir ingatan-ingatan paling jujur. Di tangan Mahfud Ikhwan, semua ingatan yang tampak remeh-temeh itu berubah jadi tafsir personal atas sejarah: tentang wabah sandiwara radio yang menyapu kota-kota kecil dan desa di seluruh Indonesia, tentang novel lucah Freddy S. hingga Umar Nur Zain yang dibaca sembunyi- sembunyi, juga tentang ingatan pahlawan masa kecil macam Sakerah dan Sarip Tambak Oso. Buku ini adalah perayaan atas ketidaksempurnaan. Tentang dosa-dosa manis yang begitu jujur diakui. Tentang rasa nostalgia yang akan selalu dikenang. Dan tentang bagaimana hal-hal pop-yang sering dianggap sampah budaya-justru membentuk cara kita membaca, menonton, dan memaknai dunia sampai hari ini.