
BAHA ZAIN Sebuah rumah limas yang redup di bawah kehijauan alam Sabak Bernam yang disegarkan oleh arus sungainya tidak pernah menyadari bahwa mereka telah menganugerahkan kepada alam kebudayaan bangsanya seorang seniman penyair. PENYAIR 69 katakan semau-maunya dengan segala keangkuhan dengan segala kebesaran telah dipakukannya pada tahun 1969 dalam bait-bait pertama sajakn ya "69" sebagai penyertaan kedewasaannya (dalam usia tigapuluh) dan kedewasaan alam puisi Melayu Penyair "69" baginya. sonder hukum sonder tradisi kami petugas revolusi Itulah Baha Zain dari nama kad pengenalannya Baharuddin bin Zainal, lahir di Bagan Datuk, Perak, pada 22hb. Mei, 1939. Pendidikannya bermula di Sekolah Melayu Sabak Bernam sebelum memasuki Anglo Chinese School, Teluk Anson dan Anderson School, Ipoh. Tahun 1960 ke Universiti Malaya, Kuala Lumpur dan lulus dengan ijazah Sarjana Muda Sastra tahun 1963. Tahun 1970-71 mengikuti kuliah di Fakulti Sastra, Universitas Indonesia, Jakarta. Kebebasan kemanusiaan dan kebenaran ilmu yang menjadi inti pengucapannya tidak sekadar tersalur dalam puisi yang dihayatinya tetapi juga dalam esei dan kritik sastra yang banyak ditulisnya. Untuk ini dia telah menerima Hadiah Sastra 1973 kerana esei dan kritik sastra di samping Hadiah Sastra untuk puisinya berturut-turut beberapa tahun. Baha Zain kini bertugas sebagai Ketua Cawangan Kajian Sastra, DBP, Kuala Lumpur. Dia memberikan sumbangan yang besar dalam menyusun Kamus Dewan di samping menyusun buku-buku Hikayat Bachtiar (1963), Hikayat Omar Omayyah (1964) dan Hikayat Chekal Waneng Pati (1965). Bersama dengan beberapa penyair lain sajaknya tersiar dalam antoloji-antoloji Teluk Gong (1967), Keranda 152 (1967) dan Suara Tujuh (1969). Perempuan dan Bayang-Bayang antoloji sajaknya yang pertama yang agak menyeluruh untuk kita saksikan "eksistensi dari peribadi yang berkembang, memperagakan gaya, bentuk dan warna" seorang Baha Zain dengan pertanyaan apakah aku seharusnya berada di tengah kawan-kawan atau berbicara dengan diplomat, professor atau peguam yang mencabarnya untuk mengucapkan atau 'menangguhkan kebenaran' yang terukir diakhir antoloji Perempuan dan Bayang-Bayang.