Dalam setiap kejadian selalu ada tambahan isyu. Kadang isyu lebih berperanan dari realitas yang sebenarnya. Usaha melawannya hanyalah dengan kebenaran dan keberanian. Celakanya, isyu tidak selalu mengenai masa lalu. Apakah pengertian saja cukup untuk menghapus, ataukah juga diperlukan kasih yang tulus?