
Melalui kumpulan tulisan ini, Ong ingin mengatakan bahwa Peristiwa G30S telah membuat Pemimpin Besar Revolusi hilang dari panggung nasional dan internasional. Ternyata revolusi tidak berjalan sebagaimana digariskan Sukarno. Selama pemerintahannya, situasi sosial-politik telah tumbuh ke dalam suatu kondisi matang bagi terjadinya revolusi lain. Sukarno digulingkan oleh kontrarevolusi yang dilancarkan Soeharto. Ong jelas sebagai pengamat memiliki akses dan perspektif yang tak terduga dalam sebuah era, dimana kepentingan pribadi dan persaingan antar kelompok semakin meningkat. Wawasan ini juga memberinya sebuah perasaan yang tajam akan jalan tragis Indonesia, sebuah tanda yang terbukti dalam peristiwa 1965–1966. -Ruth McVey penulis The Rise of Indonesian Communism-
Author

Onghokham (Ong Hok Ham) adalah seorang sejarawan dan cendekiawan Indonesia. Ia sering menulis pada kolom sejarah di majalah Tempo. Kumpulan tulisannya di majalah ini selama tahun 1976-2001 diterbitkan pada tahun 2002 dengan judul Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang. Sebagai sejarawan, Ong Hok Ham menulis banyak artikel mengenai kaum peranakan Tionghoa Indonesia. Lima belas dari puluhan artikelnya yang pernah diterbitkan Star Weekly kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa. Ong Hok Ham juga merupakan mantan dosen di Universitas Indonesia. Disertasinya selesai ditulis tahun 1975 dengan judul The Residency of Madiun; Priyayi and Peasant in the Nineteenth Century dan gelar Doktor diraihnya dari Universitas Yale, Amerika Serikat. Buah pemikiran Ong diabadikan dalam wujud pusat pelajaran sejarah Ong Hok Ham Institute di Jakarta Timur. Ia pensiun dari Universitas Indonesia pada tahun 1989. Ong Hok Ham meninggal dunia pada tanggal 30 Agustus 2007 karena stroke. Sebelumnya ia juga pernah terkena serangan stroke pada tahun 2001. Namun hal ini tidak mengganggu semangatnya untuk menulis, meskipun hanya dengan tangan kanannya.